Feature Label 1

Feature Label 2

Feature Label 3

2nd Feature Label

What's Latest and Fresh in?
ilmufarmasi - Memberikan Info Seputar Ilmu Farmasi

Friday, August 14, 2020

Disaksikan Jokowi, Uji Klinis Fase 3 Vaksin COVID-19 Dimulai oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Disaksikan Jokowi, Uji Klinis Fase 3 Vaksin COVID-19 Dimulai, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Majalah Farmasetika – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau fasilitas kapasitas produksi vaksin Covid-19 di Bio Farma, dan Penyuntikan Perdana Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran UNPAD (11/8/2020).

Hal ini menandakan uji Klinis Fase 3 Vaksin Covid-19, secara resmi dimulai di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Jokowi menyempatkan diri untuk melihat persiapan fasilitas produksi vaksin Covid-19, serta melihat uji swab dan penyuntikan perdana kepada 20 relawan yang dilaksanakan di FK UNPAD.

Kedatangan Joko Widodo ke Bandung dalam kegiatan ini, turut didampingi jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju antara lain, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN sekaligus sekaligus Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCPEN), Erick Thohir, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Kepala Badan POM, Penny K Lukito, Kepala BNPB Doni Monardo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Jokowi beserta rombongan, diterima langsung oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir beserta jajaran Board of Executives Bio Farma.
Erick Thoir mengatakan kita semua yang hadir bersyukur karena saat ini Indonesia memasuki tahapan penting dalam usaha untuk mengatasi pandemi Covid-19,

Bangga Indonesia Capai Uji Klinis Fase 3

"Kita bangga dengan kemampuan perusahaan BUMN, Bio Farma yang bekerjasama dengan lembaga Sinovac asal China karena sudah memasuki uji klinis tahap ketiga. Tidak banyak negara atau lembaga penelitian yang sudah mencapai uji klinis hingga tahap ini,"ujar Menteri BUMN, Erick Thohir di Bandung, Jawa Barat dikutip dari rilis resmi Bio Farma.

Erick Thohir melanjutkan, bawa dirinya mengucapkan terima kasih kepada para relawan, tim laboratorium Bio Farma dan Sinovac, serta Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang bisa mewujudkan tahapan krusial ini.

"Kini kita tunggu enam bulan ke depan. Mohon dukungan dan doa atas vaksin yang saya pastikan halal ini. Insyaa Allah, jika uji klinis fase 3 ini berjalan lancar, kita siapkan registrasi ke Badan POM untuk kemudian diproduksi masal dan bisa digunakan mengatasi virus Covid-19 ini," lanjutnya.

Badan POM Siap Keluarkan Izin Penggunaan Darurat

Dalam kesempatan yang sama, Penny K Lukito memastikan bagwa pelaksanaan uji klinik yang baik akan menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara etik dan ilmiah sebagai produk yang aman, bermutu, dan memiliki khasiat/efikasi. Hal tersebut menjadi tugas Badan POM dalam mengawal khasiat dan keamanan obat sebelum dan sesudah beredar.

"Badan POM juga akan memberikan asistensi dalam proses registrasi melalui mekanisme Emergency Use Authorization (EUA) dengan conditional approval, untuk mempercepat akses vaksin COVID-19 sampai ke masyarakat." ujar Kepala Badan POM dikutip dari situs resminya (11/8/2020).

Bio Farma dan Sinovac Miliki Kesamaan Platform

Sementara itu, Honesti Basyir dalam sambutannya mengatakan dunia saat ini sedang membutuhkan vaksin Covid-19, dari ratusan lembaga penelitian yang mengembangkan vaksin Covid-19, tidak banyak lembaga penelitian yang sudah sampai pada tahapan uji klinis fase 3, salah satunya adalah Sinovac dari China.

"Diperlukan uji klinis tahap 3 sebelum vaksin Covid-19 ini bisa diproduksi, Uji- klinis merupakan tahapan yang perlu dilalui untuk semua produk farmasi termasuk obat-obatan dan vaksin. Demikian juga dengan Uji klinis vaksin Covid-19, yang sudah dilaksanakan sebanyak tiga kali, mulai dari uji pre-klinis, Uji klinis tahap 1 hingga Uji Klinis tahap 2 di China dan hasilnya sudah diketahui oleh Badan POM RI", ujar Honesti.

Bio Farma dengan Sinovac, memiliki kesamaan platform antara vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac, dengan kemampuan Bio Farma dalam memproduksinya yaitu inactivated vaccine. Selain kesamaan platform, alasan pemilihan sinovac adalah karena mereka memiliki pengalaman dalam hal pengembangan vaksin dalam kondisi pandemi, seperti pembuatan vaksin SARS. Perusahaan Sinovac juga sudah mempunyai produk yang memenuhi Pre-qualifikasi WHO.

Hal lainnya adalah ada kerjasama yang dilakukan bersama Bio Farma dalam hal produksi vaksin Lain.
Dalam uji klinis 3 vaksin Covid-19 tersebut, Bio Farma akan bekerja sama dengan Tim Peneliti Uji Klinis fase 3 Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung selama enam bulan kedepan.

Bio Farma tingkatkan Kapasitas Produksi Vaksin COVID-19

Apabila Uji Klinis Fase 3 berjalan lancar, maka berikutnya adalah regristrasi ke Badan POM.

"Indonesia melalui Bio Farma, sudah mempersiapkan fasilitas produksi vaksin Covid-19 dengan kapasitas maksimal sebanyak 100 juta dosis, dan pada akhir Desember 2020, akan ada tambahan kapasitas produksi sebanyak 150 juta dosis. Mudah – mudahan kapasitas yang kami miliki ini, dapat membantu pemerintah RI dalam menghadapi dan mengatasi pandemi Covid-19 melalui produksi vaksin Covid-19", ujar Honesti.

Kapasitas yang ada di Bio Farma untuk produksi vaksin Covid-19 ini, akan memanfaatkan fasilitas produksi yang sudah ada di lahan Bio Farma, sehingga tidak perlu melakukan tambahan investasi untuk memproduksi vaksin Covid-19 ini.

Sumber :

Uji Klinik Fase III Vaksin COVID-19 di Indonesia https://pom.go.id/new/view/more/pers/556/Uji-Klinik-Fase-III-Vaksin-COVID-19-di-Indonesia.html

Indonesia Mulai Uji Klinis Fase 3 Vaksin Covid-19 http://www.biofarma.co.id/indonesia-mulai-uji-klinis-fase-3-vaksin-covid-19-2/

Itulah tadi informasi mengenai Disaksikan Jokowi, Uji Klinis Fase 3 Vaksin COVID-19 Dimulai dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Begini 4 Cara Vaksin Hentikan Pandemi COVID-19 dengan Herd Immunity oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Begini 4 Cara Vaksin Hentikan Pandemi COVID-19 dengan Herd Immunity, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

GudangIlmuFarmasi – Kasus positif COVID-19 di Indonesia hingga saat ini terus meningkat. Indonesia bisa menghentikan pandemi COVID-19 melalui vaksinasi mayoritas warganya sehingga Herd Immunity tercapai.

Apa itu herd immunity dan bagaimana vaksin bisa hentikan pandemi?

Untuk memahami bagaimana vaksin bekerja, ada baiknya untuk pertama-tama melihat sistem kekebalan. Sel yang berbeda dalam sistem kekebalan memiliki tugas yang berbeda, tetapi dua peran penting adalah mengidentifikasi patogen yang menyerang, seperti virus atau bakteri, dan menghancurkannya. Ini diidentifikasi oleh sel-sel dalam tubuh manusia yang disebut limfosit, yang tugasnya mencari sel atau molekul yang berpotensi berbahaya dan mengingat seperti apa bentuknya. Mereka melakukan ini dengan mengidentifikasi penanda spesifik di permukaannya, yang disebut antigen.

Salah satu cara limfosit melakukan ini adalah dengan memproduksi antibodi, yaitu protein yang cocok dengan bentuk antigen seperti kunci gembok, mengikatnya untuk menandai kehadirannya di seluruh sistem kekebalan. Jika cukup banyak antibodi menempel pada patogen, mereka dapat menetralkannya dengan membekapnya secara efektif. Jika tidak, sel kekebalan lain dapat terlibat dan membantu menghancurkan patogen.

Antibodi terus beredar di dalam darah bahkan setelah ancaman berlalu, sehingga ketika tubuh bertemu lagi dengan patogen yang sama, tubuh dapat dengan cepat mengidentifikasi dan merespons. Kemampuan sistem kekebalan untuk mengingat patogen setelah melihatnya sekali adalah dasar untuk vaksinasi.

Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan untuk mengenali dan melawan patogen seperti virus atau bakteri.

Vaksin bekerja dengan cara berbeda sesuai jenisnya

Ide di balik vaksin adalah untuk 'melatih' sistem kekebalan dengan menunjukkan versi patogen yang tidak akan membahayakan tubuh, atau hanya bagian dari patogen yang mengandung antigen. Ini dapat memicu respons imun yang cukup untuk menghasilkan antibodi pelindung. Ada empat jenis utama vaksin, dan semuanya bekerja sedikit berbeda.

1. Vaksin mengandung patogen yang hidup (live attenuated vaccine)

Istilah 'hidup' mengacu pada fakta bahwa vaksin tersebut mengandung versi patogen yang aktif, tetapi yang terpenting, dalam bentuk yang sangat lemah yang tidak dapat menyebabkan penyakit. Ini berarti limfosit dapat mempelajari seperti apa antigen itu dan menghasilkan antibodi untuk pertemuan di masa depan. Sedangkan penerima vaksin tetap aman dari infeksi.

Jenis vaksin ini digunakan untuk berbagai penyakit yang umum terjadi pada masa kanak-kanak, seperti campak, gondongan, dan rubella.

Karena vaksin hidup yang dilemahkan menghasilkan reaksi kekebalan yang kuat, mereka tidak cocok untuk orang dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti orang yang menjalani kemoterapi atau orang dengan AIDS.

Vaksin mengandung antigen mati (inactivated vaccine)

Vaksin yang tidak aktif mengandung antigen versi mati, atau hanya mengandung bagian kecil yang tidak dapat menyebabkan infeksi sendiri. Sistem kekebalan dapat meluncurkan pertahanan setelah belajar mengenali hanya sebagian kecil dari antigen.

Jenis vaksin ini cenderung memicu respon imun yang lebih lemah daripada vaksin hidup, dan oleh karena itu menghasilkan imunitas yang lebih pendek, sehingga orang biasanya membutuhkan dosis penguat setelah beberapa tahun.

Namun, dibandingkan dengan vaksin hidup yang kurang stabil dan membutuhkan pendinginan, vaksin yang tidak aktif lebih stabil dan cenderung tidak membutuhkan pendinginan – yang dapat menjadi penting di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana pasokan listrik tidak menentu.

Contoh dari vaksin virus utuh yang tidak aktif adalah yang melawan hepatitis A, rabies dan beberapa vaksin influenza.

3. Vaksin sub unit, rekombinan, polisakarida, dan konjugat

Kebanyakan patogen memiliki lapisan luar yang dilapisi gula atau protein. Jenis vaksin ini tidak mengandung seluruh versi patogen, hanya bagian antigenik yang diperlukan untuk memicu reaksi kekebalan. Karena subunit vaksin hanya mengandung bagian dari patogen, potongan ini harus dikurasi dengan hati-hati untuk memicu reaksi kekebalan yang cukup.

Tidak seperti vaksin utuh yang hidup atau tidak aktif, tidak ada jaminan bahwa meskipun vaksin ini memicu respons, tubuh akan mengingat respons itu. Vaksin subunit yang lebih baru telah dikembangkan untuk mengatasi hal ini. Vaksin konjugasi, misalnya vaksin konjugasi pneumokokus, menggunakan antigen kuat yang dikombinasikan dengan antigen lemah untuk memicu respons imun yang lebih kuat. Ini sering digunakan untuk mencegah infeksi bakteri.

Vaksin rekombinan tidak dimulai dengan antigen. Sebaliknya, mereka bekerja dengan memasukkan DNA yang mengkodekan antigen ke dalam tubuh dan kemudian menggunakan sel inang sendiri untuk menghasilkan antigen, yang kemudian memicu respons imun. Vaksin polisakarida terdiri dari rantai panjang molekul gula yang membentuk kapsul permukaan bakteri tertentu – inilah yang memicu respons kekebalan dalam tubuh.

4. Vaksin toksoid (toxoid vaccine)

Jenis keempat, vaksin toksoid, digunakan khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti tetanus atau difteri. Vaksin dibuat dari racun yang diproduksi oleh bakteri. Namun dalam vaksin, toksin menjadi tidak berbahaya dengan bahan kimia atau perlakuan panas. Versi toksin ini, yang disebut toksoid, tidak berbahaya, tetapi limfosit masih dapat mengenali mereka sebagai penyerang dan mempersiapkan sistem kekebalan untuk bertahan melawan toksin di masa mendatang.

Herd immunity

Produk sampingan yang berguna dari tingkat vaksinasi yang luas adalah kekebalan kawanan/komunitas (herd immunitya). Ketika kebanyakan orang dalam suatu komunitas divaksinasi untuk melawan suatu penyakit, kemampuan patogen untuk menyebar menjadi terbatas. Kekebalan kelompok sangat penting untuk melindungi orang-orang dalam komunitas yang tidak atau tidak dapat divaksinasi, misalnya mereka yang sistem kekebalannya terganggu, seperti pasien kanker.

Kekebalan komunitas telah dibahas sebagai cara untuk melindungi orang dari COVID-19, tetapi sebagian besar negara telah bergeser dari cara berpikir itu. Karena untuk mencapai kekebalan kelompok, jumlah orang yang perlu terinfeksi, dan jumlah yang berpotensi mati, akan sangat tinggi. Bahkan sekarang, dengan pandemi yang berkecamuk di seluruh dunia, hanya 10% atau kurang yang memiliki antibodi terhadap virus. Untuk memastikan kekebalan komunitas, diperkirakan 60% setidaknya harus kebal terhadap COVID-19. Dan masih belum jelas berapa lama kekebalan dari infeksi COVID-19 bertahan.

Vaksin dalam semua bentuk berbeda ini telah mengubah dunia dengan mengurangi risiko penyakit menular. Diperkirakan imunisasi dapat mencegah 2 – 3 juta kematian setiap tahun, yang dicapai dengan memanfaatkan kekuatan tubuh kita sendiri untuk menjaga kita tetap aman dan sehat.

Sumber : How do vaccines actually work? https://www.gavi.org/vaccineswork/how-do-vaccines-actually-work

Itulah tadi informasi mengenai Begini 4 Cara Vaksin Hentikan Pandemi COVID-19 dengan Herd Immunity dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Monday, July 27, 2020

Keterkaitan ROTD dengan Penulisan di Label Obat oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Keterkaitan ROTD dengan Penulisan di Label Obat oleh - ilmufarmasi.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Keterkaitan ROTD dengan Penulisan di Label Obat :

Kontraindikasi, Efek samping, dan Peringatan

 

Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) menurut WHO didefinisikan sebagai respon terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak diharapkan serta terjadi pada dosis lazim yang dipakai oleh manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi.

Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) ini dapat terjadi bila tidak teliti dalam mengikuti aturan yang ada di label obat seperti kontraindikasi, efek samping, dan peringatan.

Kontra indikasi (indikasi kontra)

Kontra indikasi adalah kondisi yang menyebabkan sebuah terapi, tindakan, atau pemeriksaan penunjang tidak dapat atau tidak boleh dilakukan.

Contoh

  • Alergi terhadap penisilin adalah kontra indikasi (indikasi kontra) terapi dengan obat turunan penisilin.
  • Metformin merupakan obat pilihan pertama untuk pasien diabetes mellitus dengan kelebihan berat badan (overweight), tetapi merupakan kontraindikasi untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan gagal jantung. Metformin dapat menyebabkan asidosis laktat pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal (Rosenstock, 1993).

Kontraindikasi bisa bersifat absolut atau relatif

Kontraindikasi Relatif adalah suatu kondisi yang dapat meningkatkan resiko buruk bagi kesehatan jika mengkonsumsi obat tersebut. Meskipun demikian pada kondisi tertentu ketika tidak ada pilihan lain maka obat ini dapat dikonsumsi

Contoh :

Penggunaan ibuprofen untuk menghilangkan nyeri pada wanita hamil trisemester ketiga dimana penggunaan obat dapat menyebabkan penutupan prematur pembuluh darah pada jantung. Akan tetapi jika tidak ada pilihan lain maka wanita hamil dapat mengkonsumsi ibuprofen.

Kontraindikasi Absolut adalah jenis kontraindikasi yang harus benar-benar dipatuhi karena jika tetap dilakukan akan berbahaya bagi kesehatan.

Contoh :

Orang-orang yang memiliki alergi dengan obat anti inflamasi non steroid tidak boleh mengkonsumsi ibuprofen sama sekali.

 

Efek Samping Obat

Efek samping obat adalah suatu reaksi yang tidak diharapkan dan berbahaya yang diakibatkan oleh suatu pengobatan. Efek samping obat, seperti halnya efek obat yang diharapkan, merupakan suatu kinerja dari dosis atau kadar obat pada organ sasaran.

Interaksi obat juga merupakan salah satu penyebab efek samping. Hal ini terjadi ketika tenaga kesehatan (dokter, apoteker, perawat) lalai dalam memeriksa obat yang dikonsumsi oleh pasien, sehingga terjadi efek-efek tertentu yang tidak diharapkan di dalam tubuh pasien. Bertambah parahnya penyakit pasien yang dapat berujung kematian merupakan kondisi yang banyak terjadi di seluruh dunia akibat interaksi obat ini.

Interaksi ini dapat terjadi antar obat atau antara obat dengan makanan/minuman. Bahkan tanaman yang digunakan dalam pengobatan alternatif yang disangka aman oleh sebagian besar masyarakat juga dapat berinteraksi dengan obat lainnya. Contohnya adalah tanaman St. John’s wort (Hypericum perforatum), yang digunakan untuk pengobatan depresi sedang. Tanaman ini menyebabkan peningkatan enzim sitokrom P450 yang berperan dalam metabolisme dan eliminasi banyak obat-obatan di tubuh, sehingga pasien yang mengkonsumsi St John’s wort akan mengalami pengurangan kadar obat lain dalam darah yang digunakan bersamaan.

Berikut ini adalah contoh dari efek samping obat yang biasanya terjadi:

 

  1. Aborsi atau keguguran, akibat Misoprostol, obat yang digunakan untuk pencegahan (gastric ulcer) borok lambung yang disebabkan oleh obat anti inflamasi non steroid.
  2. Ketagihan, akibat obat-obatan penenang dan analgesik seperti diazepam serta morfin.
  3. Kerusakan janin, akibat Thalidomide dan Accutane.
  4. Pendarahan usus, akibat Aspirin.
  5. Penyakit kardiovaskular, akibat obat penghambat COX-2.
  6. Tuli dan gagal ginjal, akibat antibiotik Gentamisin.
  7. Kematian, akibat Propofol.
  8. Depresi dan luka pada hati, akibat Interferon.
  9. Diabetes, yang disebabkan oleh obat-obatan psikiatrik neuroleptik.
  10. Diare, akibat penggunaan Orlistat.
  11. Disfungsi ereksi, akibat antidepresan.
  12. Demam, akibat vaksinasi.
  13. Glaukoma, akibat tetes mata kortikosteroid.
  14. Rambut rontok dan anemia, karena kemoterapi melawan kanker atau leukemia.
  15. Hipertensi, akibat penggunaan Efedrin. Hal ini membuat FDA mencabut status ekstrak tanaman efedra (sumber efedrin) sebagai suplemen makanan.
  16. Kerusakan hati akibat Parasetamol.
  17. Mengantuk dan meningkatnya nafsu makan akibat penggunaan antihistamin.
  18. Bunuh diri akibat penggunaan Fluoxetine, suatu antidepresan.

 

Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO 1970) efek samping suatu obat adalah segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang dianjurkan.

Efek samping adakalanya tidak dapat dihindarkan, misalnya rasa mual pada penggunaan digoksin, ergotamin, atau estrogen dengan dosis yang melebihi dosis normal. Kadang efek samping merupakan kelanjutan efek utama sampai tingkat yang tidak diinginkan, misalnya rasa kantuk pada fenobarbital, bila digunakan sebagai obat epilepsi. Bila efek samping terlalu hebat dapat dilawan dengan obat lain misalnya obat antimual (meklizine, proklorperazin) atau obat anti mengantuk (kofein, amfetamin).

Efek samping obat secara umum dikelompokkan menjadi 2 :

  1. Efek samping yang dapat diperkirakan, meliputi:
  • Efek farmakologi yang berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat disebabkan karena pemberian dosis relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan (terutama kelompok pasien dengan resiko tinggi, seperti bayi, usia lanjut, pasien dengan penurunan fungsi ginjal atau hati)
  • Gejala penghentian obat (withdrawal syndrome) merupakan suatu kondisi dimana munculnya gejala penyakit semula  disebabkan karena penghentian pemberian obat. Tindakan pemberhentian penggunaan obat hendaknya dilakukan secara bertahap.

Efek samping yang tidak berupa efek farmakologi utama, untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara sistematik sebelum obat  mulai digunakan untuk pasien. Efek-efek ini umumnya dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. Misalnya, rasa kantuk setelah pemakaian antihistamin; iritasi lambung pada penggunaan obat-obat kortikosteroid; dll.

 

  1. Efek samping yang tidak dapat diperkirakan:

 

Reaksi Alergi, terjadi sebagai akibat dari reaksi imunologi. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya, seringkali sama sekali tidak tergantung dosis dan bervariasi pengaruhnya antara satu pasien dengan yang lainnya.Beberapa contoh bentuk efek samping dari alergi yang seringkali terjadi antara lain:

  1. Demam. Umumnya dalam derajad yang tidak terlalu berat, dan akan hilang dengan sendirinya setelah penghentian obat beberapa hari.
  2. Ruam kulit (skin rashes), dapat berupa eritema (kulit berwarna merah), urtikaria (bengkak kemerahan), fotosensitifitasi, dll.
  3. Penyakit jaringan ikat, merupakan gejala lupus eritematosus sistemik, kadang-kadang melibatkan sendi.
  4. Gangguan sistem darah, trombositopenia, neutropenia (atau agranulositosis), anemia hemolitika, dan anemia aplastika. merupakan efek yang kemungkinan akan dijumpai, meskipun angka kejadiannya mungkin relatif jarang.
  5. Gangguan pernafasan. Asma akan merupakan kondisi yang sering dijumpai, terutama karena aspirin. Pasien yang telah diketahui sensitif terhadap aspirin kemungkinan besar juga akan sensitif terhadap analgetika atau antiinflamasi lain.
  6. Reaksi karena faktor genetik. Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu obat mungkin dapat memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Efek obatnya sendiri dapat diperkirakan, namun subjek yang mempunyai kelainan genetik seperti ini yang mungkin sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik.
  7. Reaksi idiosinkratik. Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian efek samping yang tidak lazim, tidak diharapkan atau aneh, yang tidak dapat diterangkan atau diperkirakan mengapa bisa terjadi. Jadi reaksi ini dapat terjadi diluar dugaan

 

Faktor-faktor pendorong terjadinya efek samping obat

  1.   a) Faktor bukan obat

Faktor-faktor pendorong yang tidak berasal dari obat antara lain adalah:

  • Intrinsik dari pasien, yakni umur, jenis kelamin, genetik, kecenderungan untuk alergi, penyakit, sikap dan kebiasaan hidup.
  • Ekstrinsik di luar pasien, yakni dokter (pemberi obat) dan lingkungan, misalnya pencemaran oleh antibiotika.
  1. b) Faktor obat
  • Intrinsik dari obat, yaitu sifat dan potensi obat untuk menimbulkan efek samping.

 

Upaya pencegahan

 

Agar kejadian efek samping dapat ditekan serendah mungkin, selalu dianjurkan untuk melakukan hal-hal berikut:

  1. Selalu harus ditelusur riwayat rinci mengenai pemakaian obat oleh pasien pada waktu-waktu sebelum pemeriksaan, baik obat yang diperoleh melalui resep dokter maupun dari pengobatan sendiri.
  2. Gunakan obat hanya bila ada indikasi jelas, dan bila tidak ada alternatif non-farmakoterapi.
  3. Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus.
  4. Berikan perhatian khusus terhadap dosis dan respons pengobatan pada: anak dan bayi, usia lanjut, dan pasien-pasien yang juga menderita gangguan ginjal, hepar dan jantung. Pada bayi dan anak, gejala dini.
    Efek samping seringkali sulit dideteksi karena kurangnya kemampuan komunikasi, misalnya untuk gangguan pendengaran.

Perlu ditelaah terus apakah pengobatan harus diteruskan, dan segera hentikan obat bila dirasa tidak perlu lagi.

Bila dalam pengobatan ditemukan keluhan atau gejala penyakit baru, atau penyakitnya memberat, selalu ditelaah lebih dahulu, apakah perubahan tersebut karena perjalanan penyakit, komplikasi, kondisi pasien memburuk, atau justru karena efek samping obat.

 

Penanganan efek samping

 

Segera hentikan semua obat bila diketahui atau dicurigai terjadi efek samping. Bukanlah tindakan yang tepat bila mengatasi efek samping dengan menambah konsumsi obat untuk mengobati efek yang timbul tanpa disertai dengan penghentian obat yang dicurigai berefek samping. Hal ini justru akan bernilai tidak efektif , dan efek samping tetap terus terjadi.

Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek samping dan kondisi penderita. Pada bentuk-bentuk efek samping tertentu diperlukan penanganan dan pengobatan yang spesifik. Misalnya untuk syok anafilaksi (suatu reaksi alergi) diperlukan pemberian adrenalin dan obat serta tindakan lain untuk mengatasi syok. Contoh lain misalnya pada keadaan alergi, diperlukan penghentian obat yang dicurigai, pemberian antihistamin atau kortikosteroid (bila diperlukan)

 

Ada 5 efek samping dari obat yang terbilang aneh atau berbeda dari efek smaping yang biasa terjadi (Dikutip dari Howstuffworks), yaitu:

Amnesia
Kondisi ini terjadi jika seseorang secara tiba-tiba tidak ingat siapa dirnya atau darimana ia berasal. Biasanya amnesia yang terjadi akibat efek samping obat bukanlah amnesia total tapi kehilangan memori jangka pendeknya.
Efek samping ini bisa terjadi pada orang yang mengonsumsi obat Mirapex (dengan nama generik pramipexole) yang digunakan untuk mengendalikan gejala Parkinson dan pada orang Restless Leg Syndrome (RLS).
Obat lainnya adalah statin yang digunakan untuk menurunkan kolesterol. Beberapa peneliti berteori bahwa statin dapat menghalangi pembentukan kolesterol yang diperlukan untuk saraf. Tapi diyakini obat ini masih memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan efek sampingnya.

 

Rasa nyeri dan sakit
Beberapa obat memang ada yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri di tubuh, tapi ada obat yang tidak berhubungan dengan nyeri justru menimbulkan rasa sakit. Orang-orang yang mengonsumsi antihistamin Allegra (dengan nama generik fexofenadine) untuk menghilangkan demam dan gejala alergi lain, ada kemungkinan mengalami rasa sakit otot dan sakit punggung.

 

Gangguan penglihatan dan indera lainnya
Beberapa obat yang diminum terkadang menimbulkan rasa pahit di mulut, tapi jika obat tersebut meninggalkan rasa yang buruk atau bisa mendistorsi indera perasa maka ada kemungkinan hal tersebut akibat efek samping dari obat yang diminum.
Salah satu obat yang bisa mempengaruhi fungsi indera seseorang adalah vasotec (dengan nama generik enalapril) yang digunakan untuk mengobati darah tinggi dan gagal jantung kongestif. Obat ini bisa mempengaruhi kelima indera seperti mengurangi rasa penciuman (anosmia), mengganggu pendengaran (tinnitus) dan masalah mata seperti gangguan penglihatan dan mata kering.

 

Perubahan warna urine
Warna urine memang bisa menunjukkan adanya hal yang tidak beres dengan tubuh, misalnya ada infeksi atau keracunan zat besi. Jika urine berwarna hitam ada kemungkinan efek samping akibat mengonsumsi obat flagyl, furazolidone atau antibiotik lainnya. Urine berwarna ungu ada kemungkinan sebagai efek samping dari obat phenolphthalein yang digunakan dalam jangka waktu lama.
Jika urine berwarna hijau ada kemungkinan sebagai efek samping dari obat elavil dan beberapa antidepresan. Sedangkan jika urine berwarna biru ada kemungkinan sebagai efek samping dari obat dyrenium, diuretik atau metilen biru yang digunakan untuk mengurangi iritasi akibat infeksi kandung kemih

 

Halusinasi
Kondisi ini terjadi jika seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang tidak benar-benar ada, halusinasi yang terjadi bisa berupa visual atau auditori. Beberapa obat yang bisa menyebabkan halusinasi adalah mirapex dan lariam (dengan nama generik mefloquine) yang diciptakan untuk mencegah atau mengobati malaria di Angkatan Darat AS.

 

Berikut ini adalah contoh dari efek samping obat yang biasanya terjadi:

â€" Kerusakan janin, akibat Thalidomide dan Accutane.

â€" Pendarahan usus, akibat Aspirin.

â€" Penyakit kardiovaskular, akibat obat penghambat COX-2.s

â€" Tuli dan gagal ginjal, akibat antibiotik Gentamisin.

â€" Kematian, akibat Propofol.

â€" Depresi dan luka pada hati, akibat Interferon.

â€"  Diabetes, yang disebabkan oleh obat-obatan psikiatrik neuroleptik.

â€" Diare, akibat penggunaan Orlistat.

â€" Disfungsi ereksi, akibat antidepresan.

â€" Demam, akibat vaksinasi.

â€" Glaukoma, akibat tetes mata kortikosteroid.

â€" Rambut rontok dan anemia, karena kemoterapi melawan kanker atau leukemia.

â€" Hipertensi, akibat penggunaan Efedrin. Hal ini membuat FDA mencabut status ekstrak tanaman efedra (sumber efedrin) sebagai suplemen makanan.

â€" Kerusakan hati akibat Parasetamol.

â€" Mengantuk dan meningkatnya nafsu makan akibat penggunaan antihistamin.

â€" Stroke atau serangan jantung akibat penggunaan Sildenafil (Viagra).

â€" Bunuh diri akibat penggunaan Fluoxetine, suatu antidepresan

PERINGATAN

Ilmu Farmasi : Penggolongan Obat Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Lihat Artikel lain terkait, dengan klik :
PENGGOLONGAN OBAT LENGKAP : penggolongan berdasarkan banyak aspek
KLASIFIKASI OBAT : obat generik, mitu, obat paten, nama dagang, wajib apotek, eselsial, dll
PENGGOLONGAN OBAT TRADISIONAL : Jamu, obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka
PENGGOLONGAN NARKOTIKA : golongan I, golongan II dan golongan III

Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi . (Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Sesuai Permenkes No. 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi. yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketetapan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek (obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter diapotek, diserahkan oleh apoteker), obat keras, psikotropika dan narkotika. Untuk obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter maka pada kemasan dan etiketnya tertera tanda khusus.

 

 

Penggolongan Jenis Obat berdasarkan berbagai undang undang dan peraturan menteri kesehatan dibagi menjadi :

 

  1. Obat Bebas

Obat bebas sering juga disebut OTC (Over The Counter) adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

Contoh : Parasetamol, vitamin
Obat bebas ini dapat diperoleh di toko/warung, toko obat, dan apotik.

 

  1. Obat Bebas Terbatas (Daftar W: Warschuwing)

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. disertai tanda peringatan dalam kemasannya:
P1. Awas! Obat Keras. Bacalah Aturan Memakainya.
P2. Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan
P3. Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dan badan.
P4. Awas! Obat Keras. Hanya Untuk Dibakar.
P5. Awas! Obat Keras. Tidak Boleh Ditelan.
P6. Awas! Obat Keras. Obat Wasir, jangan ditelan.

Contoh obat : CTM, Antimo, noza
Obat bebas terbatas dan obat bebas disebut juga OTC (over the counter)
Obat bebas terbatas ini dapat diperoleh di toko obat, dan apotik tanpa resep dokter.

 

  1. Obat Keras (Daftar G : Gevarlijk : berbahaya)

Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam.

Contoh : Asam Mefenamat, semua obat antibiotik (ampisilin, tetrasiklin, sefalosporin, penisilin, dll), serta obat-obatan yang mengandung hormon (obat diabetes, obat penenang, dll)
Obat keras ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.

  1. Obat Psikotropika dan Narkotika (Daftar O)
  2. Psikotropika
    Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Contoh : Diazepam, Phenobarbital, ekstasi, sabu-sabu
Obat psikotropika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.

 

  1. Narkotika

 

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.

Contoh : Morfin, Petidin
Narkotika digolongkan menjadi 3 golongan :

  • Narkotika golongan I 

Contohnya : Tanaman  Papaver Somniferum L kecuali bijinya, Opium mentah, Opium masak, candu, jicing, jicingko, Tanaman koka, Daun koka, Kokain mentah, dll

  • Narkotika golongan II

Contohnya : Alfasetilmetadol, Alfameprodina, Alfametadol, Alfaprodina, dll

  • Narkotika golongan III

Contohnya : Asetildihidrokodeina, Dekstropropoksifena, Dihidrokodeina, Etilmorfina, dll

Obat narkotika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter

Lebih jelasnya lihat 5 artikel Narkotika, Penggolongan Narkotika, dan Narkotika golongan I, II, III dan UU Narkotika No. 35 thn 2009 di : LABEL NARKOTIKA

 

 

Sumber: Depkes RI (2006) Bina kefarmasian dan kemendiknas RI, Farmasetika dasar, IMO dll

Menurut Undang-Undang, obat digolongkan menjadi :

  1. Obat bebas
  2. Obat bebas terbatas
  3. Obat keras
  4. Psikotropika
  5. Narkotika
  6. Obat wajib apotek

OBAT BEBAS

 

 

 

 

Obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan berwarna hijau. Dalam kemasan obat disertakan brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis, aturan pakai, efek samping ,nomor batch, nomor registrasi, nama dan alamat pabrik, serta cara penyimpanannya. penandaan akan berubah pada produk obat bebas terbatas.

Contoh :

Paracetamol, Aspirin, Promethazine, Guafenesin, Bromhexin HCL, Chlorpheniramine maleate (CTM), Dextromethorphan, Zn Sulfate, Proliver, Tripid, Gasflat, Librozym (penyebutan merk dagang, karena obat tersebut dalam kombinasi)

 

OBAT BEBAS TERBATAS

Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen atau pabrik obat itu, kemudian diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi tanda peringatan.

 

Tanda Peringatan Pada Obat Bebas Terbatas :

  1. NO.1  Awas ! Obat Keras   Bacalah aturan memakainya.

Contoh :

  1. a)       Tablet CTM                     :      Anti Histamin
  2. b)       Kapsul Vitamin E           :      Anti Sterilitas
  3. c)       Tablet Antimo                 :      Anti muntah dalam    perjalanan
  4. d)      Tablet Emetinum             :      Anti disentri
  5. e)       Tablet Santonim             :      Obat cacing

 

  1. NO. 2  Awas ! Obat Keras  Hanya untuk kumur, jangan ditelan.

Contoh :

  1. a)      Gargarisma kan              :           obat kumur
  2. b)      Listerin                           :           obat kumur
  3. c)      Oral â€" B                          :           obat kumur
  4. d)      Betadin gargle                :           obat kumur
  5. e)       Abotil                            :           obat sariawan

 

  1. NO. 3  Awas ! Obat Keras  Hanya untuk bagian luar dari badan.

Contoh :

  1. a)      Salep Sulfonamidum     :           Anti bakteri lokal
  2. b)      Liquor Burowi               :           Obat kompres
  3. c)      Tinctura Iodii                 :           Antiseptik
  4. d)     Larutan Mercurochrom  :           Antiseptik Lokal
  5. e)      Alphadine                      :           Untuk antiseptic dan disinvektan
  6. f)       Biosepton                       :           Untuk kompres luka terbuka dari ringan sampai berat, mencegah infeksi, dan menyembuhkan luka khitan, cairan pencuci pada inveksi trichomonasiasi dan infeksi lain pada vagina
  7. g)      Spitaderm                      :          Untuk disinfeksi, hygiene, dan pembedahan pada tangan dan kulit sebelum operasi, sebelum injeksi dan faksinasi, sebelum pengambilan darah, dan ketika mengganti pembalut.

 

  1. NO. 4   Awas ! Obat Keras  Hanya untuk dibakar.

Contoh :

  1. a)      Molexdine            :           Untuk sterilisasi kulit dan selaput lender     antiseptic sebelum dan sesudah oprasi infeksi kulit oleh jamur virus, protozoa, luka bakar, khitanan, perawatan tali pusar dan kompres luka
  2. b)     Neoidoine              :           Untuk luka bakar, luka bernanah, antiseptic pra dan pasca bedah, infeksii kulit karena jamur, kandidiasis, moniliasis, dan vaginitis.
  3. c)      Rokok Asthma     :           obat asthma
  4. d)     Decoderm             :           Unuk eksim, dermatitis, alergi kontak gigitan serangga, luka bakar karena sinar matahari, psoriasis vulgaris.

 

  1. NO. 5   Awas ! Obat Keras  Tidak boleh ditelan.

Contoh :

  1. a)      Bufacetin                         :           Untuk infeksi kulit yang disebapkan bakteri gram positif dan negative khususnya yang sensitive terhadap kloramfenikol.
  2. b)      AZA                                :           Untuk pengobatan aknevulgaris ringan sampai dengan sedang
  3. c)      Lysol                                :           Antiseptik
  4. d)     Ovula Sulfanilamidun      :           Anti infeksi di vagina
  5. e)      Suppositoria dulcolax      :           laksan

 

  1. NO. 6   Awas ! Obat Keras  obat wasir ,jangan ditelan.

Contoh :

  1. a)      Laxarec                 :           Untuk mengatasi kesulitan buang air besar
  2. b)      Ambeven              :           Untuk pengobatan wasir interna dan eksterna dengan gejala nyeri, bengkak, dan pendarahan
  3. c)      Tefaron
  4. d)      Tramal suppositoria
  5. e)       Encare
  6. f)       Proris
  7. g)      Glycerini leciva

 

 

OBAT KERAS

 

 

 

 

Semua obat yang :

  1. Memiliki takaran/dosis maksimum (DM) atau yang tercantum dalam daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah
  2. Diberi tanda khusus lingkaran bulat warna merah dengan garis tepi hitam dan huruf “K” yang menyentuk garis tepinya.
  3. Semua obat baru, kecuali dinyatakan oleh pemerintah (DepKes RI) tidak membahayakan
  4. Semua sediaan parenteral/injeksi/infus intravena.

Contoh :

Loratadine, Pseudoefedrin, Bromhexin HCL, Alprazolam, Clobazam, Chlordiazepokside, Amitriptyline, Lorazepam, Nitrazepam, Midazolam, Estrazolam, Fluoxetine, Sertraline HCL, Carbamazepin, Haloperidol, phenytoin, Levodopa, Benzeraside, Ibuprofen, Ketoprofen dll.

 

OBAT PSIKOTROPIKA

 

Merupakan obat yang mempengaruhi proses mental, merangsang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang. Menurut UU No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika pasal 2 ayat (2), psikotropika digolongkan menjadi :

  1. a)      Psikotropika golongan I : psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat, mengakibatkan sindroma ketergantungan.  Contohnya antara lain : lisergida (LSD/extasy), MDMA (Metilen Dioksi Meth Amfetamin), meskalina, psilosibina, katinona.
  2. b)      Psikotropika golongan II : psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara lain : amfetamin, metamfetamin (sabu-sabu), metakualon, sekobarbital, fenmetrazin.
  3. c)         Psikotropika golongan III : psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang, mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara lain  penthobarbital, amobarbital, siklobarbital, Amobarbital, Buprenorphine, Butalbital, Cathine / norpseudo-ephedrine, Cyclobarbital.
  4. d)     Psikotropika golongan IV : psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakbatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara lain : diazepam (frisium), allobarbital, barbital. bromazepam, klobazam, klordiazepoksida, meprobamat, nitrazepam, triazolam, alprazolam.

 

 OBAT NARKOTIK

Merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan IPTEK serta menimbulkan ketergantungan dan ketagihan (adiksi) yang sangat merugikan masyarakat dan individu apabila digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter. Kemasan obat golongan ini ditandai dengan lingkaran yang di dalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat golongan narkotika hanya dapat diperoleh dengan resep dokter yang asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Narkotik dibagi menjadi :

  1. a)      Golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan. tidak digunakan untuk terapi. Contoh : heroin, kokain, Canabis sp. (ganja), morfin, dan opium.
  2. b)      Golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, digunakan pada terapi sebagai pilihan terakhir. Contoh : morfin, petidin, metadon, benzetidin, dan betametadol.
  3. c)      Gol III : berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Contoh : kodein dan turunannya, etil morfin, asetihidrokode.

 

Obat Wajib Apotek (OWA)

Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotik tanpa resep dokter, tetapi harus diserahkan langsung oleh seorang Apoteker kepada pasien disertai informasi lengkap tentang penggunaan obat.

5 contoh obat bebas apotik yaitu

  1. Famotidin
  2. Ranitidin
  3. Asam Fusidat,
  4. Asam Azeleat
  5. Allopurinol
  6.  Diklofenak Na tab

 

Itulah tadi informasi dari judi slot mengenai Keterkaitan ROTD dengan Penulisan di Label Obat oleh - ilmufarmasi.xyz dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 26, 2020

Tatacara Pendirian Apotek [Lengkap + Bagan] oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Tatacara Pendirian Apotek [Lengkap + Bagan] oleh - ilmufarmasi.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Tatacara Pendirian Apotek

Kepmenkes RI No. 1332 tahun 2002 tentang Perubahan atas Permenkes RI No. 922 tahun 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek mengubah beberapa pasal tertentu, yaitu pasal 1, 3,4, 7, 9, 12, 19, 24, 25, 26, 27, 29, 30, dan 33 ayat (2). Selain pasal-pasal yang diubah pada Kepmenkes No. 1332 tahun 2002 tersebut maka tatacara pendirian apotek masih didasarkan pada Permenkes No. 922 tahun 1993.

Berdasarkan Permenkes No. 922 tahun 1993 pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa sebelum melaksanakan kegiatannya, Apoteker Pengelola Apotek wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA). Namun setelah PP No. 51 tahun 2009 keluar, berdasarkan pasal 51 ayat (2) dikatakan bahwa seorang apoteker yang melakukan pelayanan kefarmasian wajib memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). STRA ini dikeluarkan oleh menteri dan berlaku selama 5 (lima) tahun. STRA ini dapat diperpanjang kembali untuk jangka waktu 5 tahun.

Berdasarkan Permenkes RI No. 889 tahun 2011 pasal 7, untuk memperoleh STRA maka apoteker harus memenuhi persyaratan :

  1. Memiliki ijazah apoteker.
  2. Memiliki sertifikat kompetensi profesi.
  • Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji apoteker.
  1. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik.
  2. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
  3. Permenkes RI No. 889 tahun 2011 pasal 1 menyebutkan bahwa setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja. Pada pasal 2 disebutkan bahwa surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa :
  • SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian,
  • SIPA bagi Apoteker pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian,
  • SIKA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas produksi atau fasilitas distribusi/penyaluran, atau
  • SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian.

 

Berdasarkan PP No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian pasal 39 disebutkan bahwa untuk dapat memperoleh Surat Ijin Pengelola Apotek (SIPA) tersebut :

  1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi.
  2. Surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi :
  3. Apoteker berupa STRA.
  4. Tenaga Teknis Kefarmasian sebagai STRTTK.

 

Berdasarkan Permenkes RI No. 889 tahun 2011 pasal 10 ayat 1, bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus uji kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung. Pasal 12 ayat 1, untuk memperoleh STRA, Apoteker mengajukan permohonan kepada KFN dengan menggunakan contoh sebagaimana tercantum dalam Formulir 1 terlampir pada Permenkes RI No. 889 tahun 2011. Pasal 12 ayat 2, bahwa surat permohonan STRA harus melampirkan :

  1. Fotokopi ijazah Apoteker,
  2. Fotokopi surat sumpah/janji Apoteker,
  3. Fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku,
  4. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik,
  5. Surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi, dan
  6. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar dan ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar.

 

Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan Apoteker, dapat memperoleh STRA secara langsung. Permohonan STRA tersebut diajukan oleh perguruan tinggi secara kolektif setelah memperoleh sertifikat kompetensi profesi 2 (dua) minggu sebelum pelantikan dan pengucapan sumpah Apoteker baru dengan menggunakan contoh sebagaimana tercantum dalam Formulir 3 terlampir pada Permenkes RI No. 889 tahun 2011 pasal 13 ayat 1 dan 2.

 

 

Gambar 1. Skema Memperoleh Sertifikat Kompetensi Profesi, STRA, dan SIPA bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi

 

 

Gambar 2. Skema Memperoleh Sertifikat Kompetensi Profesi, STRA, dan SIPA bagi Apoteker yang Sertifikat Kompetensi

 

Menurut Kepmenkes No. 1332 tahun 2002, pasal 4 ayat (2) dijelaskan bahwa Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Adapun tata cara pemberian izin apotek menurut Kepmenkes RI No. 1332 tahun 2002, pasal 7 adalah sebagai berikut :

  1. Permohonan ijin apotek diajukan Apoteker kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten/Kota setempat,
  2. Kepala Dinkes Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan,
  3. Tim Dinkes Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinkes Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan kepada Dinkes Kabupaten/ Kota,
  4. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam nomor 2 dan 3 tidak dilaksanakan, Apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi,
  5. Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud nomor 3, atau pernyataan yang dimaksud nomor 4, Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek,
  6. Dalam hal hasil pemeriksaan tim Dinkes Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM yang dimaksud nomor 3 masih belum memenuhi persyaratan, Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan,
  7. Terhadap surat penundaan sebagaimana dimaksud nomor 6, Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal penundaan,
  8. Dalam hal Apoteker menggunakan modal pihak lain, maka penggunaan modal dimaksudkan wajib didasarkan atas perjanjian kerjasama antara APA dan Pemilik Modal Apotek (PMA). PMA harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat pernyataan yang bersangkutan.
  9. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan APA atau persyaratan apotek atau lokasi apotek yang tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinkes Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai alasan-alasannya.

Gambar 3. Tatacara Pemberian Izin Apotek

Itulah tadi informasi dari judi poker mengenai Tatacara Pendirian Apotek [Lengkap + Bagan] oleh - ilmufarmasi.xyz dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 25, 2020

Kode Etik Apoteker [dengan Tabel dan Pasalnya] oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kode Etik Apoteker [dengan Tabel dan Pasalnya] oleh - ilmufarmasi.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kode Etik Apoteker

Dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian, seorang Apoteker harus memenuhi ketentuan kode etik. Kode etik adalah panduan sikap dan perilaku tenaga profesi dalam menjalankan profesinya, sebagai aturan norma yang menjadi ikatan moral profesi. Kode etik apoteker merupakan salah satu pedoman untuk membatasi, mengatur, dan sebagai petunjuk bagi farmasis dalam menjalankan profesinya secara baik dan benar serta tidak melakukan perbuatan tercela.

Berdasarkan UU RI No. 36 tahun 2009 pasal 24 ayat 2, ketentuan mengenai kode etik diatur oleh organisasi profesi. Kode etik dibuat oleh organisasi profesi dan digunakan sebagai pedoman seseorang dalam menjalankan profesinya, maka segala bentuk pelanggaran kode etik yang terjadi merupakan tanggung jawab dan peran organisasi profesi dalam menjatuhkan sanksi-sanksinya, misalnya sampai dengan dikeluarkan dari organisasi. Jika pada pelanggaran undang-undang pemerintah aktif dalam menetapkan sanksi hukumnya, maka pada pelanggaran kode etik pemerintah akan pasif dan hanya turun tangan apabila sudah sangat diperlukan.

Apoteker memiliki kode etik profesi yang terbaru, yaitu nomor 006/2009 yang disahkan pada tanggal 8 Desember 2009 yang merupakan hasil keputusan Kongres Nasional XVIII ISFI tahun 2009. Kode etik apoteker dibagi menjadi tiga bagian yaitu kewajiban apoteker terhadap masyarakat, rekan sejawat, dan rekan profesi kesehatan yang lain.

Berikut ini merupakan pedoman implementasi kode etik dalam pekerjaan kefarmasian :

Tabel I. Kode Etik Apoteker Indonesia Beserta Implementasi

KODE ETIK IMPLEMENTASI-JABARAN KODE ETIK
Mukadimah

Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa.

Apoteker di dalam pengabdiannya serta dalam mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah/janji Apoteker.

Menyadari akan hal tersebut Apoteker di dalam pengabdian profesinya berpedoman pada satu ikatan moral yaitu: Kode Etik Apoteker Indonesia.

§  Setiap Apoteker dalam melakukan pengabdian dan pengamalan ilmunya harus didasari oleh sebuah niat luhur untuk kepentingan makhluk lain sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa.

§  Sumpah/janji Apoteker adalah komitmen seorang Apoteker yang harus dijadikan landasan moral dalam pengabdian profesinya.

§  Kode etik sebagai kumpulan nilai-nilai atau prinsip harus diikuti oleh Apoteker sebagai pedoman dan petunjuk serta standar perilaku dalam bertindak dan mengambil keputusan.

BAB I

KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1

Seorang Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah / Janji Apoteker.

§  (Sumpah Apoteker yang diucapkan Apoteker untuk bisa diamalkan pengabdiannya, harus dihayati dengan baik dan dijadikan landasan moral dalam setiap tindakan dan perilakunya).

§  Dalam sumpah Apoteker ada beberapa poin yang harus diperhatikan, yaitu :

1.      Melaksanakan asuhan kefarmasian.

2.      Merahasiakan kondisi pasien, resep, dan patient medication record (PMR).

3.      Melaksanakan praktik profesi sesuai landasan praktik profesi yaitu ilmu hukum dan etik.

Pasal 2

Seorang Apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.

§  Kesungguhan dalam menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia dinilai dari:

a.     Ada tidaknya laporan masyarakat.

b.     Ada tidaknya laporan dari sejawat Apoteker atau sejawat tenaga kesehatan lain.

c.     Tidak ada laporan dari Dinas Kesehatan.

§  Pengaturan pemberian sanksi ditetapkan dalam PO (Peraturan Organisasi).

Pasal 3

Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.

§  Setiap Apoteker Indonesia harus mengerti, menghayati dan mengamalkan kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Apoteker Indonesia. Kompetensi yang dimaksud adalah ketrampilan dan attitude yang berdasarkan pada ilmu, Hukum dan Etik.

§  Ukuran kompetensi seorang Apoteker dinilai lewat uji kompetensi.

§  Kepentingan kemanusiaan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan keputusan seorang Apoteker Indonesia.

§  Bilamana suatu saat seorang Apoteker dihadapkan kepada konflik tanggung jawab profesional, maka dari berbagai opsi  yang ada, seorang Apoteker harus memilih resiko yang paling kecil dan paling tepat untuk kepentingan pasien serta masyarakat.

Pasal 4

Seorang Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

 

§  Seorang Apoteker harus mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan profesionalnya secara terus menerus.

§  Aktivitas seorang Apoteker dalam mengikuti perkembangan di bidang kesehatan, diukur dari nilai SKP yang diperoleh dan Hasil Uji Kompetensi.

§  Jumlah SKP minimal yang harus diperoleh Apoteker ditetapkan dalam PO (Peraturan Organisasi).

Pasal 5

Di dalam menjalankan tugasnya seorang Apoteker harus menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

§  Seorang Apoteker dalam tindakan profesionalnya harus menghindari diri dari perbuatan yang akan merusak seseorang ataupun merugikan orang lain.

§  Seorang Apoteker dalam menjalankan tugasnya dapat memperoleh imbalan dari pasien atas jasa yang diberikannya dengan tetap memegang teguh kepada prinsip mendahulukan kepentingan pasien.

§  Besarnya jasa pelayanan ditetapkan dalam PO (Peraturan Organisasi).

Pasal 6

Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

 

§  Seorang Apoteker harus menjaga kepercayaan masyarakat atas profesi yang disandangnya dengan jujur dan penuh integritas.

§  Seorang Apoteker tidak akan menyalahgunakan kemampuan profesionalnya kepada orang lain.

§  Seorang Apoteker harus menjaga perilakunya di hadapan publik.

 

Pasal 7

Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.

 

§  Seorang Apoteker dalam memberikan informasi kepada pasien / masyarakat harus dengan cara yang mudah dimengerti dan yakin bahwa informasi tersebut sesuai, relevan dan “up to date”.

§  Sebelum memberikan informasi, Apoteker harus menggali informasi yang dibutuhkan dari pasien ataupun orang yang datang menemui Apoteker mengenai pasien serta penyakitnya.

§  Seorang Apoteker harus mampu berbagi informasi mengenai pelayanan kepada pasien dengan tenaga profesi kesehatan yang terlibat.

§  Seorang Apoteker harus senantiasa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap obat, dalam bentuk penyuluhan, memberikan informasi secara jelas, melakukan monitoring penggunaan obat, dan sebagainya.

§  Kegiatan penyuluhan ini mendapat nilai SKP dari IAI.

Pasal 8

Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

 

§  Tidak ada alasan bagi Apoteker untuk tidak tahu perundang-undangan atau peraturan yang terkait dengan kefarmasian. Untuk itu setiap Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan, sehingga setiap Apoteker dapat menjalankan profesinya dengan tetap berada dalam koridor UU atau peraturan.

§  Apoteker harus membuat protap sebagai pedoman kerja bagi seluruh personil di apotek, sesuai dengan kewenangan atas dasar peraturan perundangan yang ada.

BAB II

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN

Pasal 9

Seorang Apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hak azasi pasien dan melindungi makhluk hidup insani.

 

§  Kepedulian kepada pasien adalah merupakan hal yang paling utama dari seorang Apoteker.

§  Setiap tindakan dan keputusan profesional dari Apoteker harus berpihak kepada kepentingan pasien dan masyarakat.

§  Seorang Apoteker harus mampu mendorong pasien untuk ikut dalam keputusan pengobatan mereka.

§  Seorang Apoteker harus mengambil langkah-langkah untuk menjaga kesehatan pasien, khususnya anak-anak serta orang yang dalam kondisi lemah.

§  Seorang Apoteker harus yakin bahwa obat yang diserahkan pasien adalah obat yang terjamin kualitas, kuantitas dan efikasinya, serta cara pakai obat yang tepat.

§  Seorang Apoteker harus menjaga kerahasian data-data pasien (resep dan PMR dengan baik).

§  Seorang Apoteker harus menghormati keputusan profesi yang telah ditetapkan oleh dokter dalam bentuk penulisan resep dan sebagainya.

§  Dalam hal seorang Apoteker akan mengambil kebijakan yang berbeda dengan permintaan seorang dokter, maka Apoteker harus melakukan konsultasi/komunikasi dengan dokter tersebut, kecuali UU/peraturan membolehkan Apoteker untuk mengambil keputusan demi kepentingan pasien.

BAB III

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 10

Seorang Apoteker harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

 

§  Setiap Apoteker harus menghargai teman sejawatnya, termasuk rekan kerjanya.

§  Bilamana seorang Apoteker dihadapkan kepada suatu situasi yang problematik, baik secara moral atau peraturan perundang atau undang-undang yang berlaku, tentang hubungannya dengan sejawatnya, maka komunikasi antar sejawat harus dilakukan dengan baik dan santun.

§  Apoteker harus berkoordinasi dengan IAI ataupun Majelis Pertimbangan Etik dalam menyelesaikan permasalahan dengan teman sejawat.

Pasal 11

Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk mematuhi ketentuan-ketentuan Kode Etik.

 

§  Bilamana seorang Apoteker melihat sejawatnya melanggar Kode Etik, dengan cara yang santun dia harus melakukan komunikasi dengan sejawatnya tersebut untuk mengingatkan kekeliruan tersebut.

§  Bilamana ternyata yang bersangkutan sulit untuk menerima maka dia dapat menyampaikan kepada IAI atau Majelis Pertimbangan Etik Apoteker Pusat (MPEAP) atau MPEAD untuk dilakukan pembinaan.

Pasal 12

Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang baik sesama Apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam menunaikan tugasnya.

 

§  Seorang Apoteker harus menjalin dan memelihara kerjasama dengan sejawat Apoteker lainnya.

§  Seorang Apoteker harus membantu teman sejawatnya dalam menjalankan pengabdian profesinya.

§  Seorang Apoteker harus saling mempercayai teman sejawatnya dalam menjalin, memelihara kerjasama.

 

 

 

 

BAB IV

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

PETUGAS KESEHATAN LAIN

Pasal 13

Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan menghormati sejawat petugas kesehatan lain.

§  Apoteker dalam menjalankan profesinya dapat dibantu oleh Asisten Apoteker atau tenaga lainnya yang kompeten. Untuk itu, Apoteker harus menghargai dan memperlakukan teman kerja tersebut dengan baik.

§  Apoteker harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan tenaga profesi kesehatan lainnya secara seimbang dan bermartabat.

Pasal 14

Seorang Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lain.

§  Bilamana seorang Apoteker menemui hal-hal yang kurang tepat dari pelayanan profesi kesehatan lainnya, maka Apoteker tersebut harus mampu mengkomunikasikannya dengan baik kepada tenaga profesi tersebut, tanpa yang bersangkutan merasa dipermalukan.
BAB V

PENUTUP

Pasal 15

Seorang Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari.

Jika seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja melanggar atau tidak mematuhi Kode Etik Apoteker Indonesia, maka dia wajib mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah, ikatan / organisasi profesi farmasi yang menanganinya (IAI) dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

§  Terhadap pelanggaran Kode Etik Apoteker dapat mengakibatkan sanksi bagi Apoteker. Sanksi dapat berupa pembinaan, peringatan, pencabutan keanggotaan sementara dan pencabutan keanggotaan tetap. Kriteria pelanggaran Kode Etik diatur dalam PO, dan ditetapkan setelah melalui kajian yang mendalam dari MPEAD. Selanjutnya, MPEAD menyampaikan hasil telaahnya kepada IAI daerah dan MPEA.

 

 

Itulah tadi informasi dari agen judi poker mengenai Kode Etik Apoteker [dengan Tabel dan Pasalnya] oleh - ilmufarmasi.xyz dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Monday, July 13, 2020

Insomnia [Arti, Mekanisme Tidur, Gejala, Terapi Farmakologi dan Non-Farmakologi] oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Insomnia [Arti, Mekanisme Tidur, Gejala, Terapi Farmakologi dan Non-Farmakologi] oleh - ilmufarmasi.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

SWAMEDIKASI GANGGUAN TIDUR (INSOMNIA)

      Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun dan beraktivitas di siang hari. Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami kesulitan memulai tidur dan/atau mempertahankan tidur dalam setahun, dengan 17% di antaranya mengakibatkan gangguan kualitas hidup. Sebanyak 95% orang Amerika telah melaporkan sebuah episode dari insomnia pada beberapa waktu selama hidup mereka. Di Indonesia, pada tahun 2010 terdapat 11,7% penduduk mengalami insomnia.

Insomnia umumnya merupakan kondisi sementara atau jangka pendek. Dalam beberapa kasus, insomnia dapat menjadi kronis. Hal ini sering disebut sebagai gangguan penyesuaian tidur karena paling sering terjadi dalam konteks situasional stres akut, seperti pekerjaan baru atau menjelang ujian. Insomnia ini biasanya hilang ketika stressor hilang atau individu telah beradaptasi dengan stressor. Namun, insomnia sementara sering berulang ketika tegangan baru atau serupa muncul dalam kehidupan pasien.

Insomnia jangka pendek berlangsung selama 1-6 bulan. Hal ini biasanya berhubungan dengan faktor-faktor stres yang persisten, dapat situasional (seperti kematian atau penyakit) atau lingkungan (seperti kebisingan). Insomnia kronis adalah setiap insomnia yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai kondisi medis dan psikiatri biasanya pada pasien dengan predisposisi yang mendasari untuk insomnia.

Meskipun kurang tidur, banyak pasien dengan insomnia tidak mengeluh mengantuk di siang hari. Namun, mereka mengeluhkan rasa lelah dan letih, dengan konsentrasi yang buruk. Hal ini mungkin berkaitan dengan keadaan fisiologis hyperarousal.  Bahkan, meskipun tidak mendapatkan tidur cukup, pasien dengan insomnia seringkali mengalami kesulitan tidur bahkan untuk tidur siang.

Insomnia merupakan salah satu faktor risiko depresi dan gejala dari sejumlah gangguan medis, psikiatris, dan tidur. Bahkan, insomnia tampaknya menjadi prediksi sejumlah gangguan, termasuk depresi, kecemasan, ketergantungan alkohol, ketergantungan obat, dan bunuh diri.

  1. FISIOLOGI TIDUR

Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Tidur tidak dapat diartikan sebagai meanifestasi proses deaktivasi sistem Saraf Pusat. Saat tidur, susunan saraf pusat masih bekerja dimana neuron-neuron di substansia retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis batang otak yang disebut sebagai pusat tidur (sleep center). Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang otak disebut sebagai pusat penggugah (arousal center).

Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:

  1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
  2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)

Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-6 kali siklus semalam. Sedangkan tidur REM meliputi 25% dari keseluruhan waktu tidur. Pola siklus tidur dan bangun adalah bangun sepanjang hari saat cahaya terang dan tidur sepanjang malam saat gelap. Jadi faktor kunci adalah adanya perubahan gelap dan terang. Stimulasi cahaya terang akan masuk melalui mata dan mempengaruhi suatu bagian di hipotalamus yang disebut nucleus supra chiasmatic (NSC). NSC akan mengeluarkan neurotransmiter yang mempengaruhi pengeluaran berbagai hormon pengatur temperatur badan, kortisol, growth hormone, dan lain-lain yang memegang peranan untuk bangun tidur. NSC bekerja seperti jam, meregulasi segala kegiatan bangun tidur. Jika pagi hari cahaya terang masuk, NSC segera mengeluarkan hormon yang menstimulasi peningkatan temperatur badan, kortisol dan GH sehingga orang terbangun. Jika malam tiba, NSC merangsang pengeluaran hormon melatonin sehingga orang mengantuk dan tidur. Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh glandula pineal. Saat hari mulai gelap, melatonin dikeluarkan dalam darah dan  akan mempengaruhi terjadinya relaksasi serta penurunan temperatur badan dan kortisol. Kadar melatonin dalam darah mulai meningkat pada jam 9 malam, terus meningkat sepanjang malam dan menghilang pada jam 9 pagi.

  1. DEFINISI INSOMNIA

Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan. Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut.

Jadi, Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Insomnia dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan, kinerja dan kualitas hidup.

  • KLASIFIKASI INSOMNIA
  1. Insomnia Primer

Insomnia primer ini mempunyai faktor penyebab yang jelas. insomnia atau susah tidur ini dapat mempengaruhi sekitar 3 dari 10 orang yang menderita insomnia. Pola tidur, kebiasaan sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur seringkali menjadi penyebab dari jenis insomnia primer ini.

  1. Insomnia Sekunder

Insomnia sekunder biasanya terjadi akibat efek dari hal lain, misalnya kondisi medis. Masalah psikologi seperti perasaan bersedih, depresi dan dementia dapat menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini pada 5 dari 10 orang. Selain itu masalah fisik seperti penyakit arthritis, diabetes dan rasa nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini dan biasanya mempengaruhi 1 dari 10 orang yang menderita insomnia atau susah tidur. Insomnia sekunder juga dapat disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan yang diminum untuk suatu penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan yang terlarang ataupun penyalahgunaan alkohol. Faktor ini dapat mempengaruhi 1-2 dari 10 orang yang menderita insomnia.

 

  1. ETIOLOGI INSOMNIA
  2. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari orang yang dicintai, perceraian atau kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia.
  3. Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.
  4. Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur, termasuk beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat alergi, stimulan (seperti Ritalin) dan kortikosteroid.
  5. Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. Alkohol adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah malam.
  6. Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa gejala tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker, gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease (GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
  7. Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun, metabolisme, dan suhu tubuh.
  8. ‘Belajar’ insomnia. Hal ini dapat terjadi ketika anda khawatir berlebihan tentang tidak bisa tidur dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk jatuh tertidur. Kebanyakan orang dengan kondisi ini tidur lebih baik ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa atau ketika mereka tidak mencoba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton TV atau membaca.

 

  1. FAKTOR RESIKO

Hampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur pada malam hari tetapi resiko insomnia meningkat jika terjadi pada:

  • W Perempuan lebih mungkin mengalami insomnia. Perubahan hormon selama siklus menstruasi dan menopause mungkin memainkan peran. Selama menopause, sering berkeringat pada malam hari dan hot flashes sering mengganggu tidur.
  • Usia lebih dari 60 tahun. Karena terjadi perubahan dalam pola tidur, insomnia meningkat sejalan dengan usia.
  • Memiliki gangguan kesehatan mental. Banyak gangguan, termasuk depresi, kecemasan, gangguan bipolar dan post-traumatic stress disorder, mengganggu tidur.
  • S Stres dapat menyebabkan insomnia sementara, stress jangka panjang seperti kematian orang yang dikasihi atau perceraian, dapat menyebabkan insomnia kronis. Menjadi miskin atau pengangguran juga meningkatkan risiko terjadinya insomnia.
  • Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal kerja. Bekerja di malam hari sering meningkatkan resiko insomnia.

 

  1. TANDA DAN GEJALA
  • Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari
  • Sering terbangun pada malam hari
  • Bangun tidur terlalu awal
  • Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
  • Iritabilitas, depresi atau kecemasan
  • Konsentrasi dan perhatian berkurang
  • Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
  • Ketegangan dan sakit kepala
  • Gejala gastrointestinal

 

  • TERAPI NON FARMAKOLOGI
  1. Terapi tingkah laku

Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang baru dan mengajarkan cara untuk menyamankan suasana tidur. Terapi tingkah laku ini umumnya direkomendasikan sebagai terapi tahap pertama untuk penderita insomnia. Terapi tingkah laku meliputi :

  • Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
  • Teknik Relaksasi.

Meliputi merelaksasikan otot secara progresif, membuat biofeedback, dan latihan pernapasan. Cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan saat tidur. Strategi ini dapat membantu Anda mengontrol pernapasan, nadi, tonus otot, dan mood.

  • Terapi kognitif.

Meliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur dengan pemikiran yang positif. Terapi kognitif dapat dilakukan pada konseling tatap muka atau dalam grup.

  • Restriksi Tidur.

Terapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang dihabiskan di tempat tidur yang dapat membuat lelah pada malam berikutnya.3,6

  • Kontrol stimulus

Terapi ini dimaksudkan untuk membatasi waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas.

 

  1. Gaya hidup dan pengobatan di rumah

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia :

  • Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur
  • Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.
  • Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.
  • Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
  • Relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca, latihan pernapasan atau beribadah
  • Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur pada malam hari.
  • Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti menghindari kebisingan
  • Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.
  • Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin
  • Menghindari makan besar sebelum tidur
  • Cek kesehatan secara rutin
  • Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • TERAPI FARMAKOLOGI

Cara Pakai 1 tablet 1/2 â€" 1 jam sebelum tidur.
Khasiat Membantu meningkatkan kualitas tidur dan membuat tidur lebih pulas.
Perhatian Selama mengkonsumsi obat ini tidak diperkenankan mengendari

kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.

Komposisi Setiap tablet mengandung ekstrak :

  • Valerianae Radix 250 mg
  • Myristicae Semen 115 mg
  • Eleuthroginseng Radix 100 mg
  • Polygalae Radix 135 mg
Cara Penyimpanan Simpan ditempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya matahari
Kemasan 1 strip @ 4 tablet
Produsen PT. Soho Farma
Produksi Indonesia
Harga Rp 15.000,-

 

BPOM No : TR 073 370 061
Cara Pakai 1 kapsul 1/2 â€" 1 jam sebelum tidur. Diminum dengan air hangat.
Khasiat Menenangkan pikiran dan meringankan gangguan tidur
Perhatian Selama mengkonsumsi obat ini tidak diperkenankan mengendari

kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.

Komposisi Setiap kapsul mengandung ekstrak :

  • Semen Ziziphi Spinosae 23,00 mg
  • Semen Ziziphi Spinosae disangrai 23,00 mg
  • Polygalae Radix 13,60 mg
  • Semen Platycladi13,60 mg
  • Panacis Quinquefolii Radix 6,60 mg
  • Morus Alba 6,60 mg
  • Anemarrhenae Rhizoma 6,80 mg
  • Acorus Tatarinowii 6,80 mg
Cara Penyimpanan Simpan ditempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya matahari
Kemasan 1 Dus isi 12 kapsul @ 400mg
Brand Setia Medika Indonesia
Diproduksi Oleh PT. Hortikindo Modernaraya
Produksi Indonesia
Harga Rp 110.000
Disclaimer Hasil dapat bervariasi antara individu tergantung berbagai faktor

Seperti usia, genetik, pola hidup, dan lain sebagainya

 

ARTIKEL INI HANYA UNTUK PEMBELAJARAN, KONSULTASIKAN TERLEBIH DAHULU DENGAN TENAGA PROFESIONAL MEDIS/KESEHATAN YANG BERWENANG SEBELUM MELAKUKAN TERAPI

Itulah tadi informasi mengenai Insomnia [Arti, Mekanisme Tidur, Gejala, Terapi Farmakologi dan Non-Farmakologi] oleh - ilmufarmasi.xyz dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

© 2017 ilmufarmasi - Memberikan Info Seputar Ilmu Farmasi. All rights resevered. Powered By Blogger