Saturday, July 25, 2020

Kode Etik Apoteker [dengan Tabel dan Pasalnya] oleh - ilmufarmasi.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmufarmasi.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kode Etik Apoteker [dengan Tabel dan Pasalnya] oleh - ilmufarmasi.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kode Etik Apoteker

Dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian, seorang Apoteker harus memenuhi ketentuan kode etik. Kode etik adalah panduan sikap dan perilaku tenaga profesi dalam menjalankan profesinya, sebagai aturan norma yang menjadi ikatan moral profesi. Kode etik apoteker merupakan salah satu pedoman untuk membatasi, mengatur, dan sebagai petunjuk bagi farmasis dalam menjalankan profesinya secara baik dan benar serta tidak melakukan perbuatan tercela.

Berdasarkan UU RI No. 36 tahun 2009 pasal 24 ayat 2, ketentuan mengenai kode etik diatur oleh organisasi profesi. Kode etik dibuat oleh organisasi profesi dan digunakan sebagai pedoman seseorang dalam menjalankan profesinya, maka segala bentuk pelanggaran kode etik yang terjadi merupakan tanggung jawab dan peran organisasi profesi dalam menjatuhkan sanksi-sanksinya, misalnya sampai dengan dikeluarkan dari organisasi. Jika pada pelanggaran undang-undang pemerintah aktif dalam menetapkan sanksi hukumnya, maka pada pelanggaran kode etik pemerintah akan pasif dan hanya turun tangan apabila sudah sangat diperlukan.

Apoteker memiliki kode etik profesi yang terbaru, yaitu nomor 006/2009 yang disahkan pada tanggal 8 Desember 2009 yang merupakan hasil keputusan Kongres Nasional XVIII ISFI tahun 2009. Kode etik apoteker dibagi menjadi tiga bagian yaitu kewajiban apoteker terhadap masyarakat, rekan sejawat, dan rekan profesi kesehatan yang lain.

Berikut ini merupakan pedoman implementasi kode etik dalam pekerjaan kefarmasian :

Tabel I. Kode Etik Apoteker Indonesia Beserta Implementasi

KODE ETIK IMPLEMENTASI-JABARAN KODE ETIK
Mukadimah

Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa.

Apoteker di dalam pengabdiannya serta dalam mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah/janji Apoteker.

Menyadari akan hal tersebut Apoteker di dalam pengabdian profesinya berpedoman pada satu ikatan moral yaitu: Kode Etik Apoteker Indonesia.

§  Setiap Apoteker dalam melakukan pengabdian dan pengamalan ilmunya harus didasari oleh sebuah niat luhur untuk kepentingan makhluk lain sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa.

§  Sumpah/janji Apoteker adalah komitmen seorang Apoteker yang harus dijadikan landasan moral dalam pengabdian profesinya.

§  Kode etik sebagai kumpulan nilai-nilai atau prinsip harus diikuti oleh Apoteker sebagai pedoman dan petunjuk serta standar perilaku dalam bertindak dan mengambil keputusan.

BAB I

KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1

Seorang Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah / Janji Apoteker.

§  (Sumpah Apoteker yang diucapkan Apoteker untuk bisa diamalkan pengabdiannya, harus dihayati dengan baik dan dijadikan landasan moral dalam setiap tindakan dan perilakunya).

§  Dalam sumpah Apoteker ada beberapa poin yang harus diperhatikan, yaitu :

1.      Melaksanakan asuhan kefarmasian.

2.      Merahasiakan kondisi pasien, resep, dan patient medication record (PMR).

3.      Melaksanakan praktik profesi sesuai landasan praktik profesi yaitu ilmu hukum dan etik.

Pasal 2

Seorang Apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.

§  Kesungguhan dalam menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia dinilai dari:

a.     Ada tidaknya laporan masyarakat.

b.     Ada tidaknya laporan dari sejawat Apoteker atau sejawat tenaga kesehatan lain.

c.     Tidak ada laporan dari Dinas Kesehatan.

§  Pengaturan pemberian sanksi ditetapkan dalam PO (Peraturan Organisasi).

Pasal 3

Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.

§  Setiap Apoteker Indonesia harus mengerti, menghayati dan mengamalkan kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Apoteker Indonesia. Kompetensi yang dimaksud adalah ketrampilan dan attitude yang berdasarkan pada ilmu, Hukum dan Etik.

§  Ukuran kompetensi seorang Apoteker dinilai lewat uji kompetensi.

§  Kepentingan kemanusiaan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan keputusan seorang Apoteker Indonesia.

§  Bilamana suatu saat seorang Apoteker dihadapkan kepada konflik tanggung jawab profesional, maka dari berbagai opsi  yang ada, seorang Apoteker harus memilih resiko yang paling kecil dan paling tepat untuk kepentingan pasien serta masyarakat.

Pasal 4

Seorang Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

 

§  Seorang Apoteker harus mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan profesionalnya secara terus menerus.

§  Aktivitas seorang Apoteker dalam mengikuti perkembangan di bidang kesehatan, diukur dari nilai SKP yang diperoleh dan Hasil Uji Kompetensi.

§  Jumlah SKP minimal yang harus diperoleh Apoteker ditetapkan dalam PO (Peraturan Organisasi).

Pasal 5

Di dalam menjalankan tugasnya seorang Apoteker harus menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

§  Seorang Apoteker dalam tindakan profesionalnya harus menghindari diri dari perbuatan yang akan merusak seseorang ataupun merugikan orang lain.

§  Seorang Apoteker dalam menjalankan tugasnya dapat memperoleh imbalan dari pasien atas jasa yang diberikannya dengan tetap memegang teguh kepada prinsip mendahulukan kepentingan pasien.

§  Besarnya jasa pelayanan ditetapkan dalam PO (Peraturan Organisasi).

Pasal 6

Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

 

§  Seorang Apoteker harus menjaga kepercayaan masyarakat atas profesi yang disandangnya dengan jujur dan penuh integritas.

§  Seorang Apoteker tidak akan menyalahgunakan kemampuan profesionalnya kepada orang lain.

§  Seorang Apoteker harus menjaga perilakunya di hadapan publik.

 

Pasal 7

Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.

 

§  Seorang Apoteker dalam memberikan informasi kepada pasien / masyarakat harus dengan cara yang mudah dimengerti dan yakin bahwa informasi tersebut sesuai, relevan dan “up to date”.

§  Sebelum memberikan informasi, Apoteker harus menggali informasi yang dibutuhkan dari pasien ataupun orang yang datang menemui Apoteker mengenai pasien serta penyakitnya.

§  Seorang Apoteker harus mampu berbagi informasi mengenai pelayanan kepada pasien dengan tenaga profesi kesehatan yang terlibat.

§  Seorang Apoteker harus senantiasa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap obat, dalam bentuk penyuluhan, memberikan informasi secara jelas, melakukan monitoring penggunaan obat, dan sebagainya.

§  Kegiatan penyuluhan ini mendapat nilai SKP dari IAI.

Pasal 8

Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

 

§  Tidak ada alasan bagi Apoteker untuk tidak tahu perundang-undangan atau peraturan yang terkait dengan kefarmasian. Untuk itu setiap Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan, sehingga setiap Apoteker dapat menjalankan profesinya dengan tetap berada dalam koridor UU atau peraturan.

§  Apoteker harus membuat protap sebagai pedoman kerja bagi seluruh personil di apotek, sesuai dengan kewenangan atas dasar peraturan perundangan yang ada.

BAB II

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN

Pasal 9

Seorang Apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hak azasi pasien dan melindungi makhluk hidup insani.

 

§  Kepedulian kepada pasien adalah merupakan hal yang paling utama dari seorang Apoteker.

§  Setiap tindakan dan keputusan profesional dari Apoteker harus berpihak kepada kepentingan pasien dan masyarakat.

§  Seorang Apoteker harus mampu mendorong pasien untuk ikut dalam keputusan pengobatan mereka.

§  Seorang Apoteker harus mengambil langkah-langkah untuk menjaga kesehatan pasien, khususnya anak-anak serta orang yang dalam kondisi lemah.

§  Seorang Apoteker harus yakin bahwa obat yang diserahkan pasien adalah obat yang terjamin kualitas, kuantitas dan efikasinya, serta cara pakai obat yang tepat.

§  Seorang Apoteker harus menjaga kerahasian data-data pasien (resep dan PMR dengan baik).

§  Seorang Apoteker harus menghormati keputusan profesi yang telah ditetapkan oleh dokter dalam bentuk penulisan resep dan sebagainya.

§  Dalam hal seorang Apoteker akan mengambil kebijakan yang berbeda dengan permintaan seorang dokter, maka Apoteker harus melakukan konsultasi/komunikasi dengan dokter tersebut, kecuali UU/peraturan membolehkan Apoteker untuk mengambil keputusan demi kepentingan pasien.

BAB III

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 10

Seorang Apoteker harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

 

§  Setiap Apoteker harus menghargai teman sejawatnya, termasuk rekan kerjanya.

§  Bilamana seorang Apoteker dihadapkan kepada suatu situasi yang problematik, baik secara moral atau peraturan perundang atau undang-undang yang berlaku, tentang hubungannya dengan sejawatnya, maka komunikasi antar sejawat harus dilakukan dengan baik dan santun.

§  Apoteker harus berkoordinasi dengan IAI ataupun Majelis Pertimbangan Etik dalam menyelesaikan permasalahan dengan teman sejawat.

Pasal 11

Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk mematuhi ketentuan-ketentuan Kode Etik.

 

§  Bilamana seorang Apoteker melihat sejawatnya melanggar Kode Etik, dengan cara yang santun dia harus melakukan komunikasi dengan sejawatnya tersebut untuk mengingatkan kekeliruan tersebut.

§  Bilamana ternyata yang bersangkutan sulit untuk menerima maka dia dapat menyampaikan kepada IAI atau Majelis Pertimbangan Etik Apoteker Pusat (MPEAP) atau MPEAD untuk dilakukan pembinaan.

Pasal 12

Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang baik sesama Apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam menunaikan tugasnya.

 

§  Seorang Apoteker harus menjalin dan memelihara kerjasama dengan sejawat Apoteker lainnya.

§  Seorang Apoteker harus membantu teman sejawatnya dalam menjalankan pengabdian profesinya.

§  Seorang Apoteker harus saling mempercayai teman sejawatnya dalam menjalin, memelihara kerjasama.

 

 

 

 

BAB IV

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

PETUGAS KESEHATAN LAIN

Pasal 13

Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan menghormati sejawat petugas kesehatan lain.

§  Apoteker dalam menjalankan profesinya dapat dibantu oleh Asisten Apoteker atau tenaga lainnya yang kompeten. Untuk itu, Apoteker harus menghargai dan memperlakukan teman kerja tersebut dengan baik.

§  Apoteker harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan tenaga profesi kesehatan lainnya secara seimbang dan bermartabat.

Pasal 14

Seorang Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lain.

§  Bilamana seorang Apoteker menemui hal-hal yang kurang tepat dari pelayanan profesi kesehatan lainnya, maka Apoteker tersebut harus mampu mengkomunikasikannya dengan baik kepada tenaga profesi tersebut, tanpa yang bersangkutan merasa dipermalukan.
BAB V

PENUTUP

Pasal 15

Seorang Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari.

Jika seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja melanggar atau tidak mematuhi Kode Etik Apoteker Indonesia, maka dia wajib mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah, ikatan / organisasi profesi farmasi yang menanganinya (IAI) dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

§  Terhadap pelanggaran Kode Etik Apoteker dapat mengakibatkan sanksi bagi Apoteker. Sanksi dapat berupa pembinaan, peringatan, pencabutan keanggotaan sementara dan pencabutan keanggotaan tetap. Kriteria pelanggaran Kode Etik diatur dalam PO, dan ditetapkan setelah melalui kajian yang mendalam dari MPEAD. Selanjutnya, MPEAD menyampaikan hasil telaahnya kepada IAI daerah dan MPEA.

 

 

Itulah tadi informasi dari agen judi poker mengenai Kode Etik Apoteker [dengan Tabel dan Pasalnya] oleh - ilmufarmasi.xyz dan sekianlah artikel dari kami ilmufarmasi.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 comments:

Post a Comment

© 2017 ilmufarmasi - Memberikan Info Seputar Ilmu Farmasi. All rights resevered. Powered By Blogger